Subscribe

RSS Feed (xml)



Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Rabu, 11 Maret 2009

Wahai Jiwa yang Mempesona………Semoga Engkau membaca Coretan ini…………

Maafkan aku yang bukan seperti Saudaramu yang dulu lagi "Wahai Jiwa yang Mempesona....Sebenarnya aku juga Patah"

Ini adalah satu jawaban, kenapa selama ini saya menghilang, menghindar...dan tidak seperti dulu lagi....duduk bersama, tersenyum bersama dan menghapus air mata bersama diatas satu ikatan persaudaraan yang murni.....yang indah....
tulisan ini juga jawaban kenapa persaudaraan itu menjadi renggang...karena aku takut...aku gadis biasa yang tidak seindah dan se....se...se....yang antum kira....

Aku tidaklah segigih Hawa, yang berlari-lari antara Safa dan Marwah,
Bukan jua sesetia Ainul Mardhiah yang menanti kekasihnya di pintu syurga,
Aku juga bukan seorang Khadijah ataupun Fatimah Az Zahra,
Aku bukanlah Aisyah Humaira,
Apalagi Rabiatul Adawiyah yang mengabdikan sepenuh cinta pada Tuhannya.....
Ketahuilah olehmu Wahai jiwa yang mempesona..,
Aku sekadar mampu tuk berusaha mencoba mencontohi bunga-bunga itu
Kembang mekar mewangi sehingga harumnya melewati pintu-pintu jannah....syurga yang kita cita-citakan masuk bersama...


Wahai Jiwa yang Mempesona....jangan sesekali-kali enkau mencari kecantikan Zulaikha padaku karena aku tidak memiliki kecantikan itu,
Aku sekedar gadis biasa yang insyaAllah punya akhlak yang mampu menyejukkan mata hati....
Jangan sesekali-kali juga kau mengharapkan aku seorang Balqis, wanita hartawan,
Kekayaanku hanya kaya budi dan santun yang tiap hari kusuburi dengan taqwa dan ikhlas, biar rindangnya kelak menaungi hangat ranjau kehidupan....

Sadarilah olehmu Wahai Jiwa yang Mempesona..,
Dengan iman yang tiap hari diuji inilah kupelihara kelopakku,
Sehingga kelak jika kau memiliki aku sebagai sayap kiri perjuanganmu,
Siapapun dirimu kuyakin sepenuh yakin,
Bahwa engkaulah yang terbaik yang Allah ciptakan dan kirimkan untukku....

Jadi Untuk saat ini "Maafkan aku" dan tidak ada maksud apa-apa tuk tak membalas suratmu secara langsung, karena ketidak beranian ku untuk mengirim balasan surat antum secara langsung...karena berbagai kelemahan dan kekurangan yang saya tau sangat...Jika Alloh menghendaki, Ia kan menuntun mu tuk membaca coretan ini....Saudaraku...."Wahai Jiwa yang Mempesona"....karena keyakinanku atas keimananmu......biarkan waktu kan berbicara tentang takdir antara kita..... dan Alloh pasti kan memberikan kita yang terbaik....


Sebenarnya balasan surat ini ingin kukirimkan kepadamu wahai jiwa yang mempesona untuk membalas surat mu. Surat balasan ini dan surat mu sebenarnya ingin kuselipkan dalam satu dimensi kehidupan………., namun aku hanya gadis yang tak memiliki keberanian dalam membalas surat mu wahai jiwa yang mempesona untuk ………... sebab hati ini masih bimbang dan binggung tuk menanyakan apakah Aku hanya dia yang engkau anggap tidak lebih dari itu....

Assalamu’alaikum
Semoga ksalahan ini dimaafkan......
wahai jiwa yang mempesona……..

Tak terasa sudah beberapa bulan aku ingin membalas surat mu …yang tlah kau kirimkan hanya untukku…lama sudah aku mencoba tuk memahami, mencermati baik-baik untaian kata-kata yang tertulis dan kuberanikan tuk menulis surat balasan walau tak langsung ku kirimkan pada mu karena aku hanya gadis biasa yang tak mampu tuk memberanikan diri…. Surat yang ingin segera kuselesaikan tanpa harus mengorbankan perasaan ku atau perasaan mu. Seperti yang engkau tahu, aku selalu berusaha menjauh darimu, aku selalu berusaha tidak acuh padamu. Saat di depanmu, aku ingin tetap berlaku dengan normal walau perlu usaha untuk mencapainya.

Tahukah engkau wahai jiwa yang mempesona? Jika boleh aku beralasan, mungkin aku cuma takut engkau akan menjadi “illah” bagiku, karena itu aku mencoba untuk mengurung rasa itu jauh ke dalam, mendorong lagi, dan lagi hingga yang terjadi adalah tolakan-tolakan dan lonjakan yang membuatku semakin tidak mengerti.

Sakit hati ini bila terkadang perasaanku berbicara bahwa engkau mencintai dia dan tak ada aku dalam kamus cintamu, sakit memang, sakit terasa dan begitu amat perih. Namun 1000 kali rasa itu lebih baik saat aku mengerti bahwa senyummu adalah sesuatu yang berarti bagiku....dan aku mengerti bahwa aku harus mengalah demi kebahagiyaan seorang saudaraku dan disini kesabaranku tuk tetap meletakkan namamu jauh dari hatiku teruji.....dan saat surat mu kau kirimkan........kenangan itu terkadang membuat ku tersenyum sendiri...

Wahai jiwa yang mempesona…….., andai aku boleh memilih, mungkin aku ingin meminta agar Dia membalikkan sang waktu agar……. aku mampu mengedit saat-saat pertemuan itu hingga tak ada percakapan2 itu yang membuat hati ini terus mengingatmu, tak ada pembicaraan mu untuk mengenalkan cinta mu pada ku…..belok dari satu jalan ke jalan lain agar kau tak mungkin mengenaliku….agar aku tak tau cinta yang terpendam dalam hatimu…….Menghapus semua kemungkinan yang bisa mempertemukan kita dan lukisan satu kenangan yang kini tlah terlanjur terpatri dalam hati……

Banyak lembaran buku yang telah kutelusuri, banyak teman yang telah kumintai pendapat. Sebahagian mendorongku untuk mengakhiri segala prasangku tentangmu, karena sebahagian prasangka adalah suatu kesalahan,mereka memintaku untuk membuka tabir lisan ini juga untuk menutup semua rasa mu terhadapku. Namun di titik yang lain ada dorongan yang begitu kuat untuk tetap menahan rasa yang terlalu awal yang telah tertancap dihati ini yang tlah kau perkenalkan pada ku dan membukanya saat waktu yang indah yang telah ditentukan itu (andai itu bukan suatu mimpi).

Wahai Jiwa yang mempesona…, maafkanlah kelancangaku ini. Sungguh aku tidak ingin menanggung beban ini yang akan berujung ke sebuah kefatalan kelak jika hati ini tak mampu kutata, ……………

Wahai jiwa yang mempesona…, mungkin saat ini hatiku……, namun tak akan kuberikan setitik pun saat-saat ini karena aku telah bertekad dalam diriku bahwa saat-saat indahku hanya akan kuberikan kepada SUAMI-ku kelak.

Wahai jiwa yang mempesona……, tolong bantu aku untuk meraih PANGERAN-ku bila dia bukan engkau....

Wahai jiwa yang mempesona……, tahukah kamu betapa saat-saat inilah yang paling kutakutkan dalam diriku, jika saja Dia tidak menganugerahi aku dengan setitik rasa malu, tentu aku telah membalas surat mu sejak dulu bukan sebagai saudaramu namun sebagai kekasihmu ….. Andai rasa malu itu tidak pernah ada, tentu aku tidak berusaha menjauhimu. Kadang aku bingung, apakah penjauhan ini merupakan jalan yang terbaik yang berarti harus mengorbankan ukhuwah diantara kita atau harus mengorbankan iman dan maluku hanya demi hal yang tampak sepele yang demikian itu.

Aku yang tidak mengerti diriku.....
Ingin ku meminta kepadamu, sudikah engkau ………………………………………?! Namun wahai jiwa yang mempesona, kadang aku berpikir semua pasti berlalu dan aku merasa saat-saat ini pun akan segera berlalu, tetapi ada ketakutan dalam diriku bila aku melupakanmu.….. aku takut tak akan pernah lagi menemukan dirimu dalam diri mereka-mereka (saudariku yang lain).

Wahai jiwa yang mempesona…., ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir antara kita.............................................. Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucu-mu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang..... ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebahagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang.....

Wahai jiwa yang mempesona...., mintalah kepada Alloh akhir yang terbaik terhadap kisah ini. Memintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, memintalah kepada-Nya agar tetap menetapkan malu ini pada tempatnya.

Wahai jiwa yang mempesona….. marilah kita bicara dengan nurani dan keimanan, agar semua bisa terselesaikan dengan cepat dan tuntas. Tanyakan kepada nurani tentang keimanan yang bersemayam di dalamnya? Masihkah memiliki kekuatan untuk mempertahankan Allah sebagai nomor satu dan satu-satunya? Dengan kekuatan iman, cinta kepada Allah bisa mengeliminir cinta kepada seseorang yang telah menjauhkan dari keridhaan-Nya. Cinta macam apa yang menjauhkan diri dari keridhaan Allah? Untuk apa mempertahankan cinta yang akhirnya membuahkan benci Dzat yang sangat kita harapkan cinta-Nya ?

Tanyakan pada keimanan dan nurani, siapa yang lebih dicintai, Allah ataukah aku atau kamu?“Qul Aamantu Billahi tsummastaqim!” (al-Hadits)
Kita pilih cinta Allah. Lepas ikatan perasaaan yang belum halal. Keputusan ini kita ambil demi kebaikan kita. Untuk memilih yang terbaik.
Wassalamualaikum

3 komentar:

  1. aku dituntun untuk mangetahui hati yang sudah terisi dengan yang asli benar benad menyejukan yang membacanya......karena....disana bersemayan. yang aku cari....

    BalasHapus

Silahkan tulis tanggapan or komentar Anda pada form dibawah ini, semoga bermanfaat...jazakallah....